by

Drama Kesurupan Yang Dilakukan Oleh Otak Penembakan di Kelapa Gading

BeritaCNN – Tersangka utama pada kasus penembakan terhadap Sugianto (51) yang terjadi di Kelapa Gading, Nur Luthfiah (34) sebelum terjadi nya penembakan tersebut mencoba membuat drama dengan cara kerasukan agar para pelaku eksekutor nya percaya dan mau membantu rencananya untuk menghabisi nyawa bos nya itu. Bahkan setelah tertangkap oleh pihak kepolisian, Nur masih kerap bersandiwara dengan cara kesurupan guna mengelabui pihak kepolisian agar bisa terbebas dari kasus hukum yang dia hadapi saat ini.

Awal drama kesurupan itu pun terjadi pada saat Nur di damping langsung oleh sang suami untuk bertemu dengan para eksekutor yang bernama Rosidi (52), Ir Arbain Junaedi (56), dan Syahrul (58) dengan cara mengadakan pertemuan di sebuah kamar hotel yang terletak di daerah Cibubur. Pertemuan ini di lakukan dengan maksud menyusun rencana pembunuhan terhadap bos nya sendiri.

Sewaktu reka adegan 9 yang berada di kamar 709, Nur kesurupan, seolah-olah Nur dirasuki oleh arwah almarhum ayah nya, jelas Kanit IV Resmob Polda Metro Jaya AKP Noor Maghantara yang memang memimpin rekonstruksi kejadian ini.

Sandiwara kesurupan yang di lakukan oleh Nur bertujuan untuk meyakinkan sang suami dan rekan rekan nya yang di ketahui rekan-rekan nya memang sedang ikut membantu membela diri Nur Luthfiah. Sang suami dan rekan pun mempercayai apa yang di sandiwarakan oleh Nur di karenakan suatu faktor yang membuat para pelaku percaya akan perkataan dari sang arwah yang merasuki tubuh Nur. Yang merasuki tubuh Nur adalah Ustad NG yang di ketahui adalah orang yang sangat si segani oleh para pelaku penembakan ini, karena para pelaku adalah murid dari Ustad NG.

Dalam drama kesurupan tersebut Nur Luthfiah berkata “ Asallamualaikum, apakah kalian semua sudah siap untuk berjuang? “ jelas Nur pada saat pembacaan adegan.

Dan langsung di jawab oleh “ Ruhiman dan pelaku lain nya dengan berkata “ siap ayah “.

Nur juga berpura pura pingsan, dan saat pingsan itu lah Nur meminta kepada Ruhiman agar menepati janji nya untuk melakukan perjuangan ini. Dengan keadaan berpura pura pingsan Nur berkata Maman, kapan kamu bisa menepati janji kamu dan setalah mengucapkan pertanyaan tersebut Nur Luthfiah langsung sadar dan segera duduk jelas pelaku dalam memperagakan dan membacakan adegan rekonstruksi.

Pada saat Nur Luthfiah di periksa sebagai saksi, pelaku melakukan drama kesurupan lagi dengan menyebutkan bahwa si korban yang merasuki nya dan memberitahukan bahwa pelaku penembakan tersebut adalah saingan bisnis nya.

Saat menghadiri pemakanan korban pun si pelaku ini kembali berpura pura kesurupan lagi ujar Wirdanto. Dari pihak kepolisian sendiri makin curiga denga gelagat Nur Luthfiah ini dan di lakukan pemeriksaan secara mendalam terhadap pelaku.

Oleh sebab ini kami lakukan tes poligraf terhadap pelaku dan ternyata hasil nya berupa semacam kebohongan jelas Kasat Reskrim Polres Metro Jaya Kompol Wirdanto. Kami lakukan test poligraf di karenakan keterangan dari Nur kerap berubah ubah, maka dari itu kami tes menggunakan poligraf.

Nur Luthfiah sendiri adalah otak dari pembunuhan Sugianto, Nur menjelaskan bahwa dia sakit hati di karenakan sudah di lecehkan oleh korban akan tetapi pelaku sendiri merasa ketakutan karena telah menggelapkan pajak perusahaan oleh karena itu lah dia takut akan di laporkan ke polisi sehingga Nur berencana menghabisi nyawa bos nya itu.

Dalam pembunuhan ini Nur Luthfiah di bantu oleh  11 tersangka lain nya yang bernama Totok Harianto (64), Suprayitno (57), Ir Arbain Junaedi (56), Rafen Samada(45), M Rivai (25), Wahyudi (45), Sodikin (20), Ruhiman (42), D Mahfud (45), Syahrul (58), dan Rosidi (52). Semua sudah berhasil di amankan oleh pihak kepolisian Polda Metro Jaya dengan ke 12 tersangka ini di tangkap di 3 lokasi yang berbeda di Surabaya jelas Kompol Wirdanto.

Dites Poligraf Karena Otak Pelaku Penembakan di Kelapa Gading Kerap Berbohong

Jakarta – Kerap memberikan informasi yang tidak benar, maka Nur Luthfiah sampai di lakukan tes poligraf oleh pihak kepolisian. Nur Luthfiah sendiri merupakan dalang dari penembakan yang terjadi di Kelapa Gading Jakarta Utara.

Kami sempat melakukan test poligraf terhadap pelaku utama pemembakan yang terjadi di Kelapa Gading, Jakarta Utara karena sang pelaku kerap memberikan kesaksian palsu. Keterangan nya selalu berubah ubah dan pelaku sendiri menunjukan gestur berbohong saat kita mintai keterangan jelas Kompol Wirdanto.

Untuk tes poligraf juga berguna untuk memastikan perilaku dari Nur sendiri yang sering kali berpura pura kesurupan, maka dari itu kami pertimbangkan dengan matang bahwa kami perlu melakukan tes poligraf terhadap pelaku terang Wirdanto.

Beberapa kali saat pemeriksaan, pelaku sering kali berpura pura kesurupan, salah satu nya berpura pura kesurupan arwah korban dan berkata bahwa pembunuh nya adalah saingan bisnis korban bertujuan untuk mengalihkan kasus penembakan ini.

Pada saat menghadiri pemakaman korban di San Diego Hills, Jawa Barat pun Nur Luthfiah juga berpura pura kesurupan yang dimana status pelaku ini masih berstatus saksi.

Dalang Penembakan Di Kelapa Gading Masih Sempat Menghadiri Pemakaman Bos-Nya

Jakarta – Dalang dari kasus penembakan yang terjadi di Kelapa Gading yang bernama Nur Luthfiah masih bisa menghadiri dan bahkan masih ikut mengurusi pemakamana sang bos yang di ketahui adalah korban dari pembunuhan berencana Nur Luthfiah sendiri.

Untuk kepengurusan pemakaman pelaku Nur masih ikut membantu sampai pemakaman selesai ujar Kompol Wirdanto yang sedang berada di Ruko Royal Gading Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Disaat menghadiri pemakaman, Nur Luthfiah kembali menghebohkan pemakamanan dengan cara berpura pura kesurupan, dengan cara berpura pura kesurupan dengan cara di rasuki oleh arwah korban di pemakaman San Diego Hills, Jawa Barat, Minggu 16/8/2020.

Pada saat itu pelaku tidak berusaha kabur, dia memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, dari awal di TKP Nur Luthfiah masih tetap bersama kita jelas Wirdanto.

Nur Luthfiah ini merupakan dalang dari penembakan terhadap bos nya sendiri Sugianto (51­), dalam melakukan aksi nya Nur di bantu oleh 11 orang tersangka lain nya yang saat ini juga sudah di tangkap oleh pihak kepolisian di 3 daerah berbeda di Kota Surabaya.

Para tersangka ini akan dijerat dengan pasal 340 KUHP  atau Pasal 1 ayat 1 Undang Undang Darurat RI no 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup ataupun hukuman penjara selama 20 tahun bahkan bisa di jerat dengan hukuman mati jelas Kompol Wirdanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed