by

Mitologi Jawa ; Ular Adalah Dewa Underworl, Penolong dari Gorong-gorong

BeritaCNN – Saat ini sedang ramai diperbincangkan mengenai seekor ular yang melingkar di suatu pilar Keraton Yogyakarta. Jika kita bicarakan dalam mitologi perwayangan Jawa, ular adalah penguasa dunia bawah tanah yang bernama Antaboga.

Antaboga bisa di katakana sebagai penguasa Saptapratala, yang dimana arti nya adalah bumi lapis ketujuh atau dunia bawah tanah jelas ahli budaya Jawa daru Universitas Indonesia (UI) Darmoko kepada Beritacnn.com (24/10/2020).

Terdapat ada dua hewan yang menjadi penguasa antara langit dan bumi yaitu Burung Garuda sebagai penguasa langit dan ular sebagai penguasa bumi.

Sang Hyang Antaboga yang didalam dunia perwayangan yang di gambarkan dengan seekor naga yang bermahkota dan mengenakan kalung emas, Sang Hyang Antaboga memiliki kesaktian yang sangat hebat, dia bisa mengubah wujud nya menjadi seorang manusia.

Jika terjadi gempa bumi arti nya Sang Hyang Antaboga sedang marah, dia akan menggerak-gerakan buntut nya. Sang Hyang Antaboga bukan lah seorang dewa yang jahat, dia pernah melakukan penyelamatan terhadap Ksatria Pandawa Lima dari sebuah kebakaran ulah dari Sengkuni dan Kurawa. Kisah ini merupakan kisah dari pewayangan yang di mainkan oleh Bale Sigala-gala.

Dan cerita nya Sang Hyang Antaboga mengubah wujud nya menjadi Garangan ( musang Jawa ) yang kemudian menoling Pandawa dan juga Dewi Kunti, semua di bawa oleh Sang Hyang Antaboga melalui sebuah gorong-gorong agar terhindar dari kebakaran dan di pindahkan menuju Saptapratala dunia bawah jelas Darmoko.

Nagagini

Nagagini adalah merupakan tokoh mitologis dari perwayangan Jawa Yang pernah di adopsi oleh JK Rowling menjadi seorang Nagagini yang dimana cerita tersebut di perankan oleh Claudia Kim dalam sebuah film Fantastic Beast 2 pada tahun 2018. Nagagini merupakan sebuah naga besar yang dimana dia adalah seorang putri dari Sang Hyang Antaboga.

Nagagini menikah dengan Bima, personel dari Pandawa Lima, dari pernikahan tersebut lahirlah Antareja. Antareja sendiri bisa mengubah wujud nya menjadi seekor ular.

Antareja

Antareja merupakan seorang cucu dari Sang Hyang Antaboga, pernikahan antara Nagagini dengan Bima. Antareja lahir di kahyangan Saptapratala pada saat Bima sedang mengawal ibu nya Dewi Kunti untuk kembali ke Negeri Hastinapura.

Antareja yang memiliki kesaktian bisa menyemburkan bisa ular, dan barang siapa jejak tapak kaki nya dijilat oleh Antareja maka orang itu akan mati, tapi nyawa Antareja harus hilang oleh kekuatan yang dia miliki sendiri di karenakan menjilat tapak kaki dia sendiri sebelum terjadi perang Bharatayuda.

Sang Hyang Basuki

Sang Hyang Basuki atau juga di kenal sebagai Bathara Basuki adalah seorang dewa keselamatan dengan wujud ular putih. Dalam dunia perwayangan Sang Hyang Basuki lah yang selalu memberikan keselamatan dan rasa aman bagi penghuni dunia wayang. Orang yang bisa menjumpai nya hanyalah orang yang tidak pernah sama sekali menebarkan angkara murka ataupun kejahatan dan di Kahyangan Patalah Sang Hyang Basuki hanya dapat di temukan.

Dongeng Ular Terkait Asal Usul Rawa Pening Yang Berada di Jawa Tengah

Jawa – Saat ini sedang ramai-ramai nya memperbincangkan seekor ular yang melingkari pilar Keraton Yogyakarta. Banyak pula yang mengait-ngaitkan dengan sebuah hal mistis. Akan tetapi jika kita pelajari dan pahami dari budaya Jawa, ular memang sering kali dihubung-hubungkan dengan suatu tempat yang memiliki cerita sejarah nya, salah satu contoh tempat itu adalah Rawa Pening yang terletak di Jawa Tengah.

Diketahui Rawa Pening ini terletak di Kabupaten Semarang, Kecamatan Ambarawa, Bawen, Banyubiru dan Tuntang.

Dari tulisan Diah Meutia yang di tuliskan dalam Cerita Rakyat Dunia, tanah Jawa juga banyak memiliki mitos-mitos yang berkenaan dengan seekor hewan naga, salah satu nya adalah mitos terjadinya sebuah Rawa Pening yang dimana dalam cerita menyebutkan bahwa ada ular naga yang tinggal didalam danau tersebut.

Cerita rakyat tersebut di kenal dengan judul “ Legenda Rawa Pening “ yang berada di kota semarang. Diceritakan ada seekor ular naga yang memiliki kesaktian sehingga dengan kesaktian nya bisa mengalahkan penduduk desa yang berada di sana dan dia bisa berkuasa di sebuah danau tersebut.

Pada cerita dahulu, di sebuah desa Ngasem yang letaknya berada di antara dua gunung yaitu gunung Merbabu dan Telomoyo, tinggalah sepasang suami istri dengan nama Ki Hajar  dan istri nya Nyai Selakanta. Bertahun tahun mereka menikah akan tetapi tak kunjung juga mendapatkan keturunan, sehingga hal tersebut menjadi sebuah kesedihan bagi sepasang suami istri tersebut.

Akhir nya Ki Hajar membulatkan tekad nya untuk melakukan pertapaan di gunung Telomoyo guna memohon kepada Tuhan agar segera diberikan anak. Setelah sekian lama melakukan pertapaan, akhir nya Nyai Selakanta hamil dan melahirkan seorang anak, akan tetapi yang dilahirkan adalah seekor ular naga yang bernama Baru Khinting. Baru Khinting menjadi ular naga tidak seperti nya dengan ular naga yang lain nya, Baru Khinting bisa berbicara. Bagi Nya Selakanta walaupun bayi yang dia lahirkan seekor naga, akan tetapi tetap di rawat nya hingga dewasa.

Setelah Baru Klinting beranjak dewasa, dia pergi untuk mencari ayah nya yang sedang bertapa di gunung Telomoyo. Dan setelah berhasil menemukan ayah nya yang sedang bertapa di sebuah goa, akan tetap betapa terkejut nya begitu mengetahui rupa dan wujud dari anak nya tersebut.

Ki Hajar belum mempercayai bahwa yang menemui nya di tempat pertapaan itu adalah anak nya sendiri, lalu Ki Hajar memerintahkan kepada Baru Klinting untuk melingkari sebuah gunung menggunakan tubuh nya. Untuk membuktikan kepada ayah nya, sang anak langsung menjalankan perintah sang ayah.

Setelah dia melakukan perintah dari sang ayah, barulah Ki Hajar mempercayai bahwa Baru Klinting adalah anak nya, akan tetapi Ki Hajar memberikan tugas baru kepada baru Klinting untuk melakukan pertapaan agar dapat mengubah diri nya menjadi seorang manusia.

Dalam pertapaan, para penduduk Desa Pathok yang saat itu sedang berburu makanan berhasil menemukan diri nya, lalu para penduduk memotong ekor dari Baru Klinting untuk di masak sebagai makanan pesta mereka.

Setelah ekor Baru Klinting di potong, barulah dia berubah menjadi seorang manusia. Menjadi seorang manusia setelah melaksanakan pertapaan, Baru Klinting merasa lapar lantas meminta makanan kepada penduduk desa yang sedang berpesta, akan tetapi dia sama sekali tidak diberikan makanan sedikitpun dari warga tersebut.

 Dari sini lah Baru Klinting menancapkan sebuah lidi ke dalam tanah lantang menantang semua penduduk desa untuk mencabut lidi tersebut, akan tetapi semua penduduk desa tidak mampu untuk mencabut lidi tersebut lalu Baru Klinting mencabut lidi tersebut dengan segala kekuatan dan kesaktian nya. Dari lobang bekas tancapan lidi memancarkan air dan lalu menenggelamkan desa serta seluruh warga yang ada disana sehingga terbentuklah sebuah danau yang bernama Rawa Pening.

Mitos ini pun mejadi sebuah cerita turun temurun bagi masyarakat.

Mitos Ular Selalu di Samakan Dengan Jelmaan Siluman Jahat

Jawa – Ular selalu mendapatkan penilaian yang tidak baik dalam nyata maupun mistis, tak heran ualr selalu disebut sebagai hewan jelmaan siluman. Padahal kita ketahui hewan ini juga memiliki darah dan daging, serta berusaha mencari makan sendiri.

Akan tetapi bagi Aji Rachmat selaku Ketua YayasanSioux Ular Indonesia memandang suatu mitos tentang ular adalah suatu jalur tentang kebudayaan.

“ Mitos tersebut merupakan suatu pendekatan budaya kalau kami nilai dari segi biologi. Terdapat fakta motis yang bisa kita analogikan ke logika biologi, akan tetapi ada juga suatu hal yang memang tidak masuk akal jelas Aji “

Banyak masyarakat menyalah artikan yang berkaitan tentang ular seperti ular takut dengan garam, fakta nya sama sekali ulat tidak takut dengan garam, di tambah lagi ular yang masuk kedalam rumah pertanda akan santet. Semua itu termasuk kategori budaya dan untuk percaya atau tidak peraya nya tergantung pada orang itu sendiri.

Ular masuk kerumah di katakana santet padahal bisa saja karena ekosistem tempat dia hidup tergganggu sehingga ular tersebut keluar dari habitat nya untuk mencari makan seperti tikus, kadal, katak maupun lain nya yang tempat nya dekat dengan rumah tersebut jelas Ali.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed